Me : Sayang, aku menang doorprize lagi!
Him : Hahahhaha.. Bagus dong.. Soalnya kamu lagi ngerasa bahagia. Orang yang ngerasa bahagia pasti bakal dapetin semua hal-hal yang baik :)
Me : (mikir) Eh iya juga sih.. Pas aku dapet doorprize ini semuanya emang aku lagi ngerasa seneng.. Hahahhahahaa bisa ya begitu!
Showing posts with label conversation. Show all posts
Showing posts with label conversation. Show all posts
Wednesday, February 22, 2012
Wednesday, January 18, 2012
MnH (Part 2)
Me : Aku ga mau jadi orang tua yang ngerasa dirinya paling bener. Aku kan juga manusia, ya masa segalanya aku bener. Jadi aku kurang setuju sama doa ke anak yang "semoga jadi anak yang nurut sama orang tua". Tapi harusnya kalimatnya gimana ya?
Him : Sopan. Doain jadi anak yang sopan. Meskipun dia ga nurut sama orang tuanya, dia bisa menyampaikannya dengan sopan. Perilakunya juga sopan.
Me : GREAT!
Him : Sopan. Doain jadi anak yang sopan. Meskipun dia ga nurut sama orang tuanya, dia bisa menyampaikannya dengan sopan. Perilakunya juga sopan.
Me : GREAT!
Friday, November 25, 2011
MnH (part 1)
Me : Yaah ujan! Sedih deh aku kamu ntar pulangnya keujanan.
Him : Yee ga boleh gitu. Kita harus seneng kalo ujan dateng. Kalo ada ujan artinya taneman bisa dapet minuman untuk hidup. Kita kan manusia bisa pindah-pindah tempat kalo keujanan, tapi kan taneman ga bisa pindah-pindah buat cari air.
Him : Yee ga boleh gitu. Kita harus seneng kalo ujan dateng. Kalo ada ujan artinya taneman bisa dapet minuman untuk hidup. Kita kan manusia bisa pindah-pindah tempat kalo keujanan, tapi kan taneman ga bisa pindah-pindah buat cari air.
Tuesday, June 1, 2010
Berawal dari TIGA RIBU Itu.
Matahari begitu garang bersinar pagi itu, jam di mobil ungu tua ini pun masih menunjukkan: pukul 9 lebih. gonta-ganti channel radio, tak ada satupun siaran yang menarik. tiba-tiba mendadak teringat satu keinginan yang sempat terpikirkan satu tahun belakangan: mendengar cerita masa muda ayah. segera saya bertanya.......
"ayah, cerita dong dulu gimana bisa sampe jakarta? ayah dulu langsung ke jakarta dulu apa ke bandung dulu?"
"ya ke bandung dulu. kan ada yg dikenal di bandung doang dulu."
"trus tinggalnya di mana?"
"itu di rumahnya bapaknya si Tamba (salah satu saudara saya) cuma 3 bulan tinggal di sana."
"lah cuma 3 bulan? sisanya kemana??"
"yaa ikut-ikut teman."
"lah temennya kenal di mana?"
"ya kenal di sana. kenal-kenal aja sama orang. yang sama-sama orang batak."
"lah? masa kenal gitu aja bisa langsung temenan?"
"ya makanya, kan orang batak itu kalo tau kamu juga orang batak pasti dibantuin. ayah selama hampir 7 tahun di bandung ga pernah ngekos atau bayar sewa. ikut teman aja."
"lahhh???? (saya makin takjub) terus makannya gimana?"
"yaa dibayarin teman."
sampai pembicaraan ini, "teman" yang dimaksud ayah adalah orang-orang yang baru dikenalnya di bandung sana. kenal karena sama-sama orang batak. dibantu karena sama-sama orang batak.
"trus ayah dari kampung bawa uang berapa?"
"waktu itu ayah cuma bawa Rp 10.000. Rp 7.000 udah dipake buat naik kapal."
"jadi sisanya cuma Rp 3.000 pertama kali dateng dari kampung????? (saya tidak percaya)"
"iyalah. itu uang Rp 10.000 juga boleh pinjam sana sini."
"waktu itu Rp 3.000 setara sama uang berapa kalo jaman sekarang?"
"hmmmm... (sambil berpikir dan tetap menyetir) kira-kira Rp 1.000 itu sama kaya Rp 100.000 sekarang."
"emang buat makan berapa?"
"yaa masih ratusan."
"waaahhh.... itu taun berapa?"
"hmmm... ayah waktu itu lulus SMA langsung ke keluar dari medan. Desember 1973."
"terus ke jakartanya kapan?"
"ayah di bandung lama. sampe tahun 80 ayah baru ke jakarta (3 tahun kemudian bertemu mama saya dan menikah :D)"
"ngapain ayah ke jakarta? ko ga di bandung aja?"
"yaa udah ga tau mau ngapain lagi di bandung. udah mentok. yaudah ke jakarta aja. lagipula kan ayah di bandung waktu itu juga itu les Bon A sampe Bon C (atau B saya lupa). jadi begitu selesai dan dapet ijasah, ya langsung ke jakarta aja."
"uang buat lesnya dari mana?"
"yaa dikirim dari kampung."
"dikirimnya pake apa? wesel?"
"ya enggak. dititipin sama orang yang mau ke jakarta atau ke bandung."
terdiam beberapa lama sambil tetap memperhatikan jalan yang saya lewati untuk sampai ke rumah.
"hoia, kenapa ayah mau ke bandung?"
"yahhh.. abis. ngapain juga di kampung?"
"yahhh.. abis. ngapain juga di kampung?"
"terus dibolehin sama opung?
"ya dibolehin lah. di kampung juga ga ada kerjaan. kan cuma ayah yang sukses di antara sodara-sodara ayah (ayah punya lebih dari 5 saudara kandung, saya lupa tepatnya. dan memang benar, ayahlah yang satu-satunya punya kehidupan yang paling baik)"
"di jakarta ayah kerja di mana pertama kali?"
"di PT indrapura asuransi itu."
"terus?"
"abis itu baru ke manunggal life. baru ke Tata yang akhirnya dibeli sama orang asing dan ganti nama jadi MAA asurance (semenjak pertama kali kerja, ayah saya memang memulai dan mengakhiri masa kerjanya di perusahaan asuransi)"
"hoooo..."
"ayah kan baru kuliah taun 85. terus lulus 90. (ayah saya menikah dengan mama saya pada tahun 83, dan tahun 84 kakak pertama saya lahir) jadi ayah kerja dulu buat biayain kuliah."
"ohhhh..."
perjalanan minggu pagi sepulang gereja itu hampir segera berakhir. Kavling bukit asri sudah di depan mata.
"makanya chi, ayah itu memulai smuanya benar-benar dari 0. usaha terus menerus biar bisa biayai hidup. jaman dulu mah ayah ga pernah mikirin, 'makan gimana nanti ya?' tapi lebih sering 'tidur dimana nanti?' ya kalo ga ada teman, ya ayah ga makan. makanya kamu harus benar-benar memperhatikan pengeluaran."
"iyaaaa.." jawab saya sambil keluar mobil untuk membuka gerbang rumah. ya, saya sudah sampai di rumah. rumah hasil usaha keras ayah saya yang dimulainya dari uang TIGA RIBU RUPIAH.
terima kasih ayah untuk kisahmu ini :) saya sangat bangga padamu :*
Dad's Facts:
- numpang angkot sana-sini dengan bilang "bang numpang ya sampe ..., saya ga punya uang" tanpa bayar sama sekali adalah hal yang sudah biasa terjadi di kehidupan muda ayah saya.
- sewaktu di bandung, ayah saya sempat mau ditembak orang. untungnya ditolong sama orang lain yang ternyata juga orang batak. dan mereka menjadi saudara sampai saat ini.
- selama 15 tahun di Jakarta, ayah saya hanya bekerja di 3 perusahaan. ia menghabiskan 10 tahun di tempat kerjanya yang terakhir.
Friday, April 30, 2010
PAK SUDIRO
siang itu terik. seperti biasa. tak ada yang istimewa.
damri yang saya tumpangi pun biasa saja. tak ada yang istimewa.
kali ini saya harus menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai graha sanusi itu. ya, salah satu teman saya sedang mengadakan selebrasi kelulusan bersama dengan penghuni universitas padjadjaran yang kala itu sudah menanggalkan status mahasiswanya.
oh, penuh. gumam saya.
tak mau ambil resiko tidak nyaman duduk dengan pemuda, maka saya memilih duduk di samping salah satu lelaki lanjut usia yang ada di situ.
ah, dia tidak akan rewel mengajak saya ngobrol. pikir saya.
dan saya pun asik bercumbu dengan handphone merah putih kesayangan saya sampai akhirnya bis kota itu jalan dan masuk ke jalan tol.
dan sampailah saya pada kewajiban saya membayar tarif bis kota ini. 3200 saja. memang tidak mahal untuk ukuran saya sebagai mahasiswa.
tak disangka, setelah membayar, si bapak ini pun mengajak saya ngobrol. dan sampailah saya pada percakapan ini. percakapan yang sangat saya nikmati hingga saya tidak merasakan peluh panas udara di dalam bis kota yang sesak ini.
"mau kemana dek?"
"mau ke dipati ukur pak, ada teman yang sedang diwisuda"
"ooh ade kuliah dimana memangnya?"
"di jurnalistik unpad pak"
"di jurnalistik unpad pak"
"ooohhh, saya sering sekali diminta bantuan untuk menerjemahkan bahasa inggris atau bahasa belanda mahasiswa unpad loh"
wah? menarik.
"bapak bisa bahasa belanda? belajar darimana pak?
"ohh saya kan waktu kecil sudah terbiasa dengan bahasa belanda. kan saya sempat merasakan jaman penjajahan waktu dulu"
tambah menarik.
"oya? memangnya jaman dulu semua orang wajib bisa bahasa belanda pak?"
"ya kalau sekolah di sekolah milik belanda (saya tidak ingat istilahnya) memang ada pelajarannya"
"ooohhh.. begitu ya? oya pak, saya penasaran, bagaimana sih jaman belanda itu? apa benar lebih makmur dari jaman penjajahan jepang?"
"wah jelas. jaman belanda itu orang tua saya yang hanya seorang guru, namun gajinya lebih dari cukup untuk membiayai saya dan saudara-saudara saya. gaji guru saat itu 800 gulden. sedangkan untuk biaya sekolah saya hanya 40 gulden"
si bapak nampak semakin bersemangat bercerita.
"waktu itu, 1 gulden bisa membeli 1,5 kg beras (atau kebalikannya, saya lupa) bapak saya yang hanya seorang guru bisa memiliki tanah banyak sekali waktu itu. selama sebelum mata uang indonesia ditetapkan menjadi rupiah, keluarga saya masih sangat bercukupan kala itu. saat rupiah sudah ditetapkan menjadi mata uang nasional, harga barang2 menjadi lebih mahal"
"waaaaaahh.. lalu bagaimana pas jaman jepang pak? semuanya jadi serba susah?"
"wah, jelas. sangat susah. satu persatu tanah bapak saya dijual untuk membiayai kehidupan kami"
"hmmmm.. eh pak, saya penasaran, waktu jaman belanda, kira2 berapa pasaran kendaraan ya pak?"
"wah sebelum mobil merk jepang masuk, harga mobil sangat mahal dek. motor jerman waktu itu bisa mencapai 6000 gulden"
"wah?? mahal juga yaa"
percakapan kami terus berlanjut. makin meluas pembicaraannya. sampai kepada masalah bahasa.
"saya tuh bingung ya dek. bagaimana sebenarnya bahasa asing seperti bahasa inggris itu diajarkan di sekolah jaman sekarang. jaman dulu, saya SR (sekolah rakyat) sudah lancar berbahasa belanda. memang guru yang mau mengajar di SR harus bisa bahasa belanda, dan mengajarnya pun sering menggunakan bahasa belanda. jadi wajar waktu itu hampir semua bisa bahasa belanda. yang saya bingung, kenapa anak jaman sekarang kok masih kebanyakan yang tidak bisa bahasa asing? apa sebenarnya yang salah? padahal dari jaman kalian SD bahkan sampai kuliah kalian diajarkan bahasa inggris, tapi masih banyak yang tidak bisa dan tidak lancar. saya saja kelas 4 SR sudah bisa bahasa belanda. heran saya"
saya terdiam. oiya, benar juga. apa yang salah? mengapa mereka jaman dulu, usia SD sudah lancar bahasa belanda, mengapa kita yang diajarkan dari SD sampai kuliah masih banyak yang mengalami kesulitan? apa yang salah?
"wah, saya baru tau pak, kalau jaman dulu, usia SD saja sudah mahir berbahasa belanda. benar juga seperti yang bapak bilang"
saya berpikir. mengapa bisa? apa yang salah?
tidak terasa roda sang bis kota sudah menyentuh jalan supratman. wah cepat juga. tidak terasa.
"oya, bapak mau kemana?"
"saya mau ke daerah pasteur, mau beli alat-alat untuk melukis sepatu. saya lihat jaman sekarang sedang tren, saya mau coba usaha di situ"
"wah? bapak bisa melukis? memangnya kegiatan bapak apa sekarang?"
"iya saya memang bisa melukis. makanya istri saya menganjurkan untuk mencoba usaha ini. yah kerjaan saya mah sekarang hanya menerima orderan penerjemah sekali-sekali. siapa tau adek butuh penerjemah, boleh hubungi saya. catet saja nomer saya. pak sudiro. 022...."
"iya saya memang bisa melukis. makanya istri saya menganjurkan untuk mencoba usaha ini. yah kerjaan saya mah sekarang hanya menerima orderan penerjemah sekali-sekali. siapa tau adek butuh penerjemah, boleh hubungi saya. catet saja nomer saya. pak sudiro. 022...."
"sebentar pak" seraya mengambil handphone yang sejak pembicaraan dimulai saya letakkan di dalam tas. biar tidak mengganggu.
"oya, adek tau rumah makan niagara ga? yang di daerah gerlong"
"hmmmm.. ga tau pak. memangnya kenapa?"
"itu punya anak saya. anak pertama saya. kalau kesana, bilang saja 'tau dari pak sudiro', pasti dikasih diskon. hahahaha"
"ohya? boleh boleh, nanti saya coba ke sana"
"du du du du"
terdengar suara kondektur yang mengisyaratkan kami penumpang untuk bersiap turun.
"wah sudah sampai"
"iya ga kerasa ya pak sudah sampai. bapak memang suka sendirian pergi? memang rumah bapak dmana?"
"rumah saya di sumedang. saya memang sudah biasa kemana-mana sendiri. wong fisik saya masih kuat. makanya adek sering2 minum jamu yah! jangan sering2 minum obat2an, jamu lebih sehat. biar bisa seperti saya"
"hooo iya ya yaa pak. ayo turun pak. hati hati di jalan yaa pak"
"yayaya, kamu juga hati2 ya.."
saya pandangi badan bapak sudiro dari belakang. masih tegap. padahal kalau tidak salah dia bilang umurnya sudah 80 tahun. masih sangat tegap.
dan akhirnya pembicaraan sekitar satu jam setengah yang begitu menarik itu selesai. dan saya menemukan banyak pengetahuan dari bapak itu. saya sedikit bisa merasakan,begini ya rasanya ngobrol sama kakek, maklum kakek2 saya sudah meninggal ketika saya masih bayi. dan akhirnya segala pertanyaan yang sangat ingin saya tanyakan ke sosok seorang kakek pun terjawab oleh sosok pak sudiro.
lelaki 80 tahun yang masih sangat terheran-heran dengan kondisi pendidikan saat ini.
benar, apa yang salah?
jatinangor, agustus 2009
*saya harap saya bertemu lagi dengan pak sudiro di bis kota itu
Subscribe to:
Posts (Atom)